30 Januari 2014 curahanku ma :(
Tik tok tik tok detik demi detik waktu bergerak maju, tak akan berhenti atau berjalan mundur. Ya, semua orang tau itu. Diantara lorong lorong rumah sakit, di antara kamar kamar pasien hanya ruang kelas 1A yang sepertinya tak pernah sepi akan air mata. Seseorang yang sangat disayang terbujur lemas tak ada suara atau gerak yang seperti biasa, hanya dengan isyarat atau dengan di tulis di selembar kertas, tulisan terakhir yang mengatakan " handak disedot lagi " dan kata "sanggup" .
Langkah kaki itu, kaki seseorang yang memakai sepatu hak masuk ke dalam ruangan, sambil memeriksa dan nampak bergegas seakan tak memberi perhatian khusus atau seakan tak peduli dengan apa yang dirasakan keluarga pasien. Seorang dokter yang tak akan pernah ku lupa wajah dan tingkahnya yang hanya memikirkan uang tanpa memberi kepastian sembuh, ya kami memang bukan berasal dari keluarga kaya raya, kami hanya berasal dari keluarga yang sederhana, tapi tak selayaknya orang yang kami sayang diperlakukan seperti orang tidak mampu, kami bisa membayar dan kami akan bayar semuanya demi kesembuhan orang yang kami cintai.Setelah didesak dokter itu memberi saran agar mama dipindahkan keruang ICU. Lemah hatiku mendengarnya, tapi aku,kaka dan papah tetap yakin kalau mama akan sembuh. Kaka sebagai saudara tertua segera menyelesaikan administrasi, papah menemani mama dan aku disuruh kaka mengambil obat di apotik.Ada rasa yang aneh ketika memasuki pintu luar ICU, karena ini belum jam besuk aku hanya mengantar di depan pintu dan seorang perawat menyuruh aku masuk dan menaruh di meja perawat. Hanya beberapa menit ketika aku berbalik badan ingin keluar dari ruangan itu, tiba-tiba tanda itu berbunyi semakin lemah dan semakin lemah, begitu juga dengan tubuhku, seperti disayat sedikit demi sedikit, rasa yang susah diartikan dengan kata rasa yang sangat tak biasa dan tak akan pernah jadi biasa. Entah apa aku punya kekutan untuk berlari secepat yang ku bisa keluar dari ruangan itu dan memanggil keluarga diluar meski dengan lidah yang kelu.Semua berkumpul didalam, tante mulai membacakan surah yasin dan surah-surah yang ada di dalam Al-quran, kaka hanya menangis di kaki mama, papah membisikan kalimat "ashaduallaillahaillaullah wa'ashaduannamuhammadarosullullah", sementara aku hanya terdiam mematung tanpa suara tanpa gerak di pinggir ranjang itu, seluruh badan gemetar, hati dan jantung seakan bersiap-siap jatuh, suara itu suara alaram jantung teriang-iang di telinga bagai duri yang menancap, dan mama semakin lemah hanya bisa berucap " maafin mama ya" hingga beliau menutup mata dan suara itu mendatar. Aku lemah, aku tak bisa merasakan apapun hinga saat itu juga aku terjatuh. Papah membawaku keluar mencoba menyadarkanku, aku cuma berharap itu hanya mimpi tetapi tak bisa dipungkiri itu memang terjadi, di lorong rumah sakit itu aku berteriak seperti orang sakit jiwa, tak ku pedulikan nasehat papah ataupun para perawat yang melihatku, aku hanya ingin berteriak kencang sambil berharap mama sadar kembali. Aku memaksakan diri ikut di ambulan itu, di sepanjang jalan aku memelukya membisikan ditelinganya agar ia bangun tapi itu tak berhasil. Mereka membuka pintu-pintu ambulan itu, aku melihat banyak orang dengan wajah berduka di rumah dan halamanku hingga aku lemah dan pingsan kembali. Kali ini kaka yang menggendongku kerumah tetangga agar aku tenang tapi aku tetap saja meronta agar ini bukan kenyataan. Aku sayang mama, aku ingin dia hidup sampai aku tua, aku ingin dia selalu memelukku dan aku ingin seperti dulu .... Ini adalah perasaanku ma, aku ingin mama tau kalau aku sayang mama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar