BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 06 Juni 2014

part 1

                                        
        Dua puluh menit sebelum bel berbunyi, di pagi yang cerah dimana matahari mulai terik memantulkan sinarnya Vivi dengan tenang melangkah meninggalkan rumah menaiki motor yang siap mengantar kesekolah barunya. Di perjalanan Vivi hanya duduk diam tanpa memikirkan apapun. Namun ketenangannya terhenti saat dilihatnya  bangunan sekolah dan orang-orang yang tidak seperti biasanya ia lihat. Ia memperhatikan seluruh bangun itu beserta riuh suara anak murid yang sedang asyik bercanda di setiap sisi lingkungan sekolah.
Vivi baru saja pindah dari sekolah kejuruan dan sekarang dia pindah ke SMA karna vivi kurang cocok dengan pelajaran-pelajaran dan lingkungan  yang baginya terlalu serius . Sesampainya di depan gerbang sekolah dengan baju seragam yang masih berartribut sekolah lama Vivi terlihat sangat berbeda dengan yang lain, bisa dibilang Vivi menjadi pusat perhatian diawal dia masuk sekolah, yak maklum dengan wajah yang cantik dan seragam yang sedikit berbeda, mungkin itulah mengapa Vivi menjadi pusat perhatian. Dengan jalan yang sedikit grogi dan heran karna banyak yang memperhatikannya, dia menuju lantai dua mencari ruangan yang akan menjadi kelasnya, karena masih baru dan dia belum tau dimana letak kelasnya,Vivi pun bertanya dengan segerombolan cowo yang ada didekatnya “hai, mau nanya kelas XG dimana” ucapnya dengan ramah, “itu disana” jawab salah satu cowo dengan wajah fleet sambil menunjukan dimana kelas XG “makasih namaku vivi” dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya dengan ramah dengan segerombolan cowo itu, dengan pikiran bingung mereka hanya meiyakan omongan Vivi sambil memasang wajah heran.
     Dengan perasaan yang sangat gugup Vivi masuk ke kelas barunya “ Hai, Selamat pagi” ucapan salam Vivi membuat semua yang sedang sibuk bercanda tiba tiba berbalik arah dan memandangi Vivi, murid-murid dikelas itu hanya terdiam heran dan sebagian ada yang menjawab ucapan salamnya. Kemudian ia langsung duduk dibangku  kosong paling belakang, murid murid didalam kelas itu pun dengan antusiasnya menggeromboli Vivi untuk sekedar kenalan dan bertanya-tanya kepada Vivi kenapa pindah ke sini, dengan ramah Vivi meladeni pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan dengannya. Setelah semua pertanyan -pertanyan dijawab dengan pasti oleh vivi,kemudian ia keluar kelas untuk sekedar melihat-lihat sekolah barunya, karena kelas vivi berada dilantai 2 dia bisa dengan mudah menikmati pemandangan sekolah barunya itu, “tidak terlalu buruk cukup menyenangkan sekolah disini, semuanya ramah” ucapnya dalam hati sambil membuang nafas lega. Tak lama kemudian salah satu siswi sekelasnya yang bernama Rara menghampiri vivi “ vi liat deh cowo disana, itu yang alas sepatunya ada putihnya, keren kan, cakep putih lagi” menujuk seorang kaka kelas cowo yang berada dilantai bawah.
 “ yang mana,oh yang lagi jalan mondar mandir di kelas bawah itu ya ra?’. Vivi memperhatikan salah satu cowo yang Rara maksud.
“iya yang itu keren kan keren kan vi.” Rara menjulurkan lidahmya dan tertawa.
“ya lumayan sih,ciee lo naksir ya Ra.siapa nama tu cowo?”
Rara langsung berontak “ihhh siapa yang naksir, gue cuma suka aja liat dia, gue juga ga tau namanya siapa”. Rara tertawa
Teng…. Teng… teng…
“lonceng tuh Ra,masuk kelas yu “ Vivi narik tangan Rara dan masuk kelas.
        Tidak terasa hampir setengah hari Vivi menghabiskan waktu disekolah barunya,ada perasaan sangat lega di hati Vivi karena dia merasa ga salah pilih sekolah lagi dan merasa mantap untuk menamatkan sekolah SMA-nya disini,yah meski sekolah barunya ini jauh berbeda dengan sekolah dulu yang lebih banyak muridnya,lebih besar lingkungan sekolahnya,lebih banyak kegiatannya dan pastinya sekolah yang dulu lebih bergengsi dari sekolah yang sekarang.Tapi Vivi hanya punya dua pilihan,ingin sekolah yang dimasukinya sekarang atau sekolah pesantren, tentunya Vivi memilih sekolah ini, Vivi ga sanggup sekolah pesantren karena memiliki segudang hapalan-hapalan. Setelah melewati jam pelajaran terakhir lonceng tanda pulang berbunyi  “teng.. teng.. tong” terdengar begitu keras pukulan lonceng besi itu, maklum saja disekolah ini ga ada bell listrik otomatis kaya disekolah-sekolahnya dulu. Ketika lonceng itu berbunyi semua siswa bergegas membereskan buku-buku mereka dan berhamburan keluar kelas. Dan perlu dimaklumi lagi, karena Vivi murid baru dia harus pulang sendiri dan menunggu jemputan sendiri, ga kaya yang lain pulang bersama-sama bergerombol dan menunggu jemputan bareng atau pulang naik motor bareng kaya geng motor dan ada juga yang nongkrong-nongkrong dulu diwarung terdekat untuk sekedar  membeli cemilan atau ngeroko bareng yah karena disekolah ngeroko itu dilarang keras.
***
        Kali ini Vivi di antar Zizah untuk pergi bareng ke sekolah. Zizah adalah seorang sahabat terdekat Vivi mulai dari kelas VIII SMP dan sampai SMK pun mereka satu sekolah bareng meski beda jurusan dan pada akhirnya Vivi pindah ke SMA ini.
“Ooo…ini toh sekolah baru lo Vi, gersang banget sih ga ada pohonnya apa? “tanya Zizah ceplas ceplos tanpa sadar ada guru di depan gerbang .
“ shut.. diam lo,ga sadar apa ada guru gue denger,berangkat gih lo ntar telat lagi” sahut Vivi.
“eh ada gurunya ya?mampus gue cabut ah”
 Zizah menyalakan motornya dan bergegas pergi dan Vivi segera memasuki sekolah.
Setelah pelajaran usai Vivi pergi kekantin bersama beberapa teman barunya,tiba-tiba seorang kaka kelas nanyain nomer handphone Vivi,cowo itu ngakunya kenal sama Heny temen sekelas Vivi dan Heny yang bilang sama dia klo Vivi bakalan masuk sekolah disini. Karena dia kenal sama temen Vivi makanya ia memberikan nomer hp nya ke cowo itu meskipun agak terpaksa dan ga enak juga klo Vivi ga ngasih nomernya.
Vivi memang merasa betah, beberapa hari sekolah disini dia tidak menunjukan tanda-tanda kebosanan, karena bisa dibilang Vivi adalah cewe yang gampang badmood dan bosan, maka dari itu keluarga Vivi sangat cemas klo Vivi ga betah lagi sekolah disini. Tapi Vivi juga cewe yang gampang akrab berbaur dengan lingkungan yang baru dikenalnya, klo bahasa zaman sekarangnya itu bisa disebut sebagai cewe yang ‘Friendly’. Baru tiga hari sekolah Vivi udah punya beberapa temen akrab dikelasnya, hari ini Vivi berniat pulang bersama Cika  dan Aya sekaligus menunggu jemputan bersama mereka. Seperti biasa ketika lonceng berbunyi semua siswa bergegas keluar dari kelas mereka. Vivi, Cika dan Aya berjalan menuju gerbang sekolah, tak berapa lama seorang cowo yang menaiki motor matic menghampiri mereka, cowo yang memakai alas sepatu putih, cowo yang pernah di bicarakan Rara, cowo yang sampai sekarang ga tau namanya siapa  itu menghampiri Vivi.
Cowo yang membonceng temennya itu berhenti dan menyapa Vivi “ Hay, lo murid baru itu ya ?”.
“Hay juga, iya ada apa?”. Vivi menjawab dengan bingung
“Pulang sama siapa? Sini ikut gue aja. Do
 lo turun gih… gue mau nganterin dia nih... cepetan !” cowo itu menepuk pundak temennya yang bernama Dodo
Andi turun dari motor cowo itu  “ yah elo … gue pulang nebeng siapa…“.
Vivi memotong pembicaraan Dodo “Eh ga usah..gue di jemput nyokap ko, makasih tawarannya ”.
“Emmm.. gue duluan ya” Vivi berjalan menarik temen- temennya.
“yes gue ga jadi pulang jalan kaki” Balas Dodo kegirangan.
Cowo itu tersenyum  memperhatikan Vivi.
        Saat sampai rumah Vivi langsung memikirkan kenapa cowo yang ga dikenalnya sama sekali itu tiba-tiba dengan mudahnya ingin mengantarkan Vivi pulang. Ya mungkin untuk sebagian orang itu adalah hal yang biasa aja tapi itu tidak biasa untuk Vivi, Vivi seorang anak rumahan yang jarang sekali keluar bareng berdua sama cowo,walaupun pernah itu pun harus dengan pacarnya dan bisa dibilang selama pacaran hanya tiga kali Vivi jalan bareng sama pacarnya, sisanya Cuma duduk-duduk ngobrol dirumah Vivi dan diawasi oleh mama nya yang selalu nonton tv berdekatan ruang tamu.
        Handphone Vivi berbunyi tanda ada pesan masuk,setelah Vivi buka ternyata sms itu dari kaka kelas  yang bernama Andi kelas XI IPS3 yang meminta nomer Vivi dikantin tadi.
 “ Hai Vi salam kenal ya,bolehkan gue jadi temen lo “.
“ emm iya ka boleh ko, salam kenal balik”. Balas Vivi
“ Lo mau kan jum’at besok ikut gue dan temen-temen gue makan siang setelah pulang sekolah “.
“ Gimana ya ka, gue kan baru kenal sama ka dan gue juga belum kenal sama temen- temen kaka”.
“ Kita perginya sama temen-temen lo juga, sama Tia ”.
        Setelah pulang sekolah ternyata Vivi dijemput Tia . “Loh, Zizah mana? katanya dia yang mau jemput gue.”. Tanya Vivi.
“ Ini kita mau jemput Zizah dulu,buruan naik “. Jawab Tia
Ketika mereka melewati warung tempat tongkrongan kaka kelas yang berada di dekat sekolahan. Vivi dan Tia yang berpapasan di warung itu di rayuin  kaka kelas cowo yang berada di sana, cowo yang beralas sepatu putih dan teman-temannya  juga ikut berteriak sambil melontarkan gombalan-gombalan yang sontak membuat Vivi menjadi malu.
“Tia, lo tau ga siapa nama cowo yang teriak pake alas sepatu putih waktu kita lewat di warung tadi”. Vivi penasaran.
“Klo yang itu gue gak tau. Tapi klo diliat dari mukanya sih ga asing ya, Kayanya gue sering liat muka tu cowo. Kenapa sih Vi?”. Tia juga ikut penasaran.
“Gak papa sih, gue cuma nanya aja”. Vivi mengerutkan keningnya.
“Masa sih, Dia lumayan ko Vi”. Tia merayu Vivi.
“Apa sih lo”. Vivi tersenyum kecil.
        Setelah sampai di warung makan kecil-kecilan Andi dan temannya sampai untuk sekedar makan siang dengan Vivi, Tia, dan Zizah. Sambil menunggu hidangan, mereka melontarkan candaan . Entah kenapa Vivi sangat penasaran dengan cowo beralas sepatu putih itu hingga dia berani menanyakannya ke Andi . “ ka boleh nanya gak”.Vivi memulai pembicaraan.
        “kenapa Vi?”.
        “Tau gak nama kaka kelas yang make alas sepatu putih,orangnya lumayan cakep sih dan putih yang sering nongkrong di warung deket sekolah”. Vivi membayangkan cowo itu.
        “Siapa ya? Rezky atau bukan”. Jawab Andi sambil mengingat cowo yang dimaksud Vivi.
        “ Yah mana Vivi tau ka,makanya Vivi nanya” Vivi menaikkan bahunya.
        “Kayanya yang kamu maksud itu Rezky deh,Kenapa Vi nanyain dia”.Andi sedikit curiga.
        “gak ko, cuma nanya aja, orangnya gampang akrab “. Vivi menyeringai, lalu vivi segera mengalihkan pembicaraan. “ Wah gelangnya bagus banget, boleh gak ka minta gelangnya”. Ucap Vivi dengan wajah memelas.
Andi berpikir sejenak dan merasa berat hati “ ya udah deh buat kamu aja”. Di lepasnya gelang bewarna hitam kuning itu kemudian ia pasangkan ke tangan Vivi.
        Sore dihari yang sama Vivi, Zizah, Anton  dan Andi pergi ke sebuah kantor yang baru selesai dibangun untuk Pemotretan, Bisa dibilang Vivi adalah seorang model karena foto memang menjadi sebuah hobby baginya, dia cukup sering dijadikan model oleh beberapa photographer.                         

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar