Dua puluh menit
sebelum bel berbunyi, di pagi yang cerah dimana matahari mulai terik
memantulkan sinarnya Vivi dengan tenang melangkah meninggalkan rumah menaiki
motor yang siap mengantar kesekolah barunya. Di perjalanan Vivi hanya duduk
diam tanpa memikirkan apapun. Namun ketenangannya terhenti saat dilihatnya bangunan sekolah dan orang-orang yang tidak
seperti biasanya ia lihat. Ia memperhatikan seluruh bangun itu beserta riuh
suara anak murid yang sedang asyik bercanda di setiap sisi lingkungan sekolah.
Vivi baru saja pindah dari sekolah kejuruan dan
sekarang dia pindah ke SMA karna vivi kurang cocok dengan pelajaran-pelajaran
dan lingkungan yang baginya terlalu
serius . Sesampainya di depan gerbang sekolah dengan baju seragam yang masih
berartribut sekolah lama Vivi terlihat sangat berbeda dengan yang lain, bisa
dibilang Vivi menjadi pusat perhatian diawal dia masuk sekolah, yak maklum
dengan wajah yang cantik dan seragam yang sedikit berbeda, mungkin itulah
mengapa Vivi menjadi pusat perhatian. Dengan jalan yang sedikit grogi dan heran
karna banyak yang memperhatikannya, dia menuju lantai dua mencari ruangan yang
akan menjadi kelasnya, karena masih baru dan dia belum tau dimana letak
kelasnya,Vivi pun bertanya dengan segerombolan cowo yang ada didekatnya “hai,
mau nanya kelas XG dimana” ucapnya dengan ramah, “itu disana” jawab salah satu
cowo dengan wajah fleet sambil menunjukan dimana kelas XG “makasih namaku vivi”
dia mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya dengan ramah dengan
segerombolan cowo itu, dengan pikiran bingung mereka hanya meiyakan omongan
Vivi sambil memasang wajah heran.
Dengan perasaan yang
sangat gugup Vivi masuk ke kelas barunya “ Hai, Selamat pagi” ucapan salam Vivi
membuat semua yang sedang sibuk bercanda tiba tiba berbalik arah dan memandangi
Vivi, murid-murid dikelas itu hanya terdiam heran dan sebagian ada yang
menjawab ucapan salamnya. Kemudian ia langsung duduk dibangku kosong paling belakang, murid murid didalam
kelas itu pun dengan antusiasnya menggeromboli Vivi untuk sekedar kenalan dan bertanya-tanya
kepada Vivi kenapa pindah ke sini, dengan ramah Vivi meladeni
pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan dengannya. Setelah semua pertanyan -pertanyan
dijawab dengan pasti oleh vivi,kemudian ia keluar kelas untuk sekedar
melihat-lihat sekolah barunya, karena kelas vivi berada dilantai 2 dia bisa
dengan mudah menikmati pemandangan sekolah barunya itu, “tidak terlalu buruk
cukup menyenangkan sekolah disini, semuanya ramah” ucapnya dalam hati sambil
membuang nafas lega. Tak lama kemudian salah satu siswi sekelasnya yang bernama
Rara menghampiri vivi “ vi liat deh cowo disana, itu yang alas sepatunya ada
putihnya, keren kan, cakep putih lagi” menujuk seorang kaka kelas cowo yang
berada dilantai bawah.
“ yang mana,oh yang lagi
jalan mondar mandir di kelas bawah itu ya ra?’. Vivi memperhatikan salah satu
cowo yang Rara maksud.
“iya yang itu keren kan keren kan vi.” Rara menjulurkan lidahmya
dan tertawa.
“ya lumayan sih,ciee lo naksir ya Ra.siapa nama tu cowo?”
Rara langsung berontak “ihhh siapa yang naksir, gue cuma suka aja
liat dia, gue juga ga tau namanya siapa”. Rara tertawa
Teng…. Teng… teng…
“lonceng tuh Ra,masuk kelas yu “ Vivi narik tangan Rara dan masuk
kelas.
Tidak terasa hampir
setengah hari Vivi menghabiskan waktu disekolah barunya,ada perasaan sangat
lega di hati Vivi karena dia merasa ga salah pilih sekolah lagi dan merasa
mantap untuk menamatkan sekolah SMA-nya disini,yah meski sekolah barunya ini
jauh berbeda dengan sekolah dulu yang lebih banyak muridnya,lebih besar
lingkungan sekolahnya,lebih banyak kegiatannya dan pastinya sekolah yang dulu
lebih bergengsi dari sekolah yang sekarang.Tapi Vivi hanya punya dua
pilihan,ingin sekolah yang dimasukinya sekarang atau sekolah pesantren,
tentunya Vivi memilih sekolah ini, Vivi ga sanggup sekolah pesantren karena
memiliki segudang hapalan-hapalan. Setelah melewati jam pelajaran terakhir
lonceng tanda pulang berbunyi “teng..
teng.. tong” terdengar begitu keras pukulan lonceng besi itu, maklum saja
disekolah ini ga ada bell listrik otomatis kaya disekolah-sekolahnya dulu.
Ketika lonceng itu berbunyi semua siswa bergegas membereskan buku-buku mereka
dan berhamburan keluar kelas. Dan perlu dimaklumi lagi, karena Vivi murid baru
dia harus pulang sendiri dan menunggu jemputan sendiri, ga kaya yang lain
pulang bersama-sama bergerombol dan menunggu jemputan bareng atau pulang naik
motor bareng kaya geng motor dan ada juga yang nongkrong-nongkrong dulu
diwarung terdekat untuk sekedar membeli
cemilan atau ngeroko bareng yah karena disekolah ngeroko itu dilarang keras.
***
Kali ini Vivi di antar
Zizah untuk pergi bareng ke sekolah. Zizah adalah seorang sahabat terdekat Vivi
mulai dari kelas VIII SMP dan sampai SMK pun mereka satu sekolah bareng meski
beda jurusan dan pada akhirnya Vivi pindah ke SMA ini.
“Ooo…ini toh sekolah baru lo Vi, gersang banget sih ga ada pohonnya
apa? “tanya Zizah ceplas ceplos tanpa sadar ada guru di depan gerbang .
“ shut.. diam lo,ga sadar apa ada guru gue denger,berangkat gih lo
ntar telat lagi” sahut Vivi.
“eh ada gurunya ya?mampus gue cabut ah”
Zizah menyalakan motornya
dan bergegas pergi dan Vivi segera memasuki sekolah.
Setelah pelajaran usai Vivi pergi kekantin
bersama beberapa teman barunya,tiba-tiba seorang kaka kelas nanyain nomer
handphone Vivi,cowo itu ngakunya kenal sama Heny temen sekelas Vivi dan Heny yang
bilang sama dia klo Vivi bakalan masuk sekolah disini. Karena dia kenal sama
temen Vivi makanya ia memberikan nomer hp nya ke cowo itu meskipun agak
terpaksa dan ga enak juga klo Vivi ga ngasih nomernya.
Vivi memang merasa betah, beberapa hari sekolah disini dia tidak
menunjukan tanda-tanda kebosanan, karena bisa dibilang Vivi adalah cewe yang
gampang badmood dan bosan, maka dari itu keluarga Vivi sangat cemas klo Vivi ga
betah lagi sekolah disini. Tapi Vivi juga cewe yang gampang akrab berbaur
dengan lingkungan yang baru dikenalnya, klo bahasa zaman sekarangnya itu bisa
disebut sebagai cewe yang ‘Friendly’. Baru tiga hari sekolah Vivi udah punya beberapa
temen akrab dikelasnya, hari ini Vivi berniat pulang bersama Cika dan Aya sekaligus menunggu jemputan bersama
mereka. Seperti biasa ketika lonceng berbunyi semua siswa bergegas keluar dari
kelas mereka. Vivi, Cika dan Aya berjalan menuju gerbang sekolah, tak berapa
lama seorang cowo yang menaiki motor matic menghampiri mereka, cowo yang
memakai alas sepatu putih, cowo yang pernah di bicarakan Rara, cowo yang sampai
sekarang ga tau namanya siapa itu
menghampiri Vivi.
Cowo yang membonceng temennya itu berhenti dan menyapa Vivi “ Hay,
lo murid baru itu ya ?”.
“Hay juga, iya ada apa?”. Vivi menjawab dengan bingung
“Pulang sama siapa? Sini ikut gue aja. Do
lo turun gih… gue mau nganterin
dia nih... cepetan !” cowo itu menepuk pundak temennya yang bernama Dodo
Andi turun dari motor cowo itu
“ yah elo … gue pulang nebeng siapa…“.
Vivi memotong pembicaraan Dodo “Eh ga usah..gue di jemput nyokap ko,
makasih tawarannya ”.
“Emmm.. gue duluan ya” Vivi berjalan menarik temen- temennya.
“yes gue ga jadi pulang jalan kaki” Balas Dodo kegirangan.
Cowo itu tersenyum memperhatikan Vivi.
Saat sampai rumah Vivi
langsung memikirkan kenapa cowo yang ga dikenalnya sama sekali itu tiba-tiba dengan
mudahnya ingin mengantarkan Vivi pulang. Ya mungkin untuk sebagian orang itu
adalah hal yang biasa aja tapi itu tidak biasa untuk Vivi, Vivi seorang anak
rumahan yang jarang sekali keluar bareng berdua sama cowo,walaupun pernah itu
pun harus dengan pacarnya dan bisa dibilang selama pacaran hanya tiga kali Vivi
jalan bareng sama pacarnya, sisanya Cuma duduk-duduk ngobrol dirumah Vivi dan
diawasi oleh mama nya yang selalu nonton tv berdekatan ruang tamu.
Handphone Vivi
berbunyi tanda ada pesan masuk,setelah Vivi buka ternyata sms itu dari kaka
kelas yang bernama Andi kelas XI IPS3 yang
meminta nomer Vivi dikantin tadi.
“ Hai Vi salam kenal
ya,bolehkan gue jadi temen lo “.
“ emm iya ka boleh ko, salam kenal balik”. Balas Vivi
“ Lo mau kan jum’at besok ikut gue dan temen-temen gue makan siang
setelah pulang sekolah “.
“ Gimana ya ka, gue kan baru kenal sama ka dan gue juga belum kenal
sama temen- temen kaka”.
“ Kita perginya sama temen-temen lo juga, sama Tia ”.
Setelah pulang sekolah
ternyata Vivi dijemput Tia . “Loh, Zizah mana? katanya dia yang mau jemput
gue.”. Tanya Vivi.
“ Ini kita mau jemput Zizah dulu,buruan naik “. Jawab Tia
Ketika mereka melewati warung tempat
tongkrongan kaka kelas yang berada di dekat sekolahan. Vivi dan Tia yang
berpapasan di warung itu di rayuin kaka
kelas cowo yang berada di sana, cowo yang beralas sepatu putih dan
teman-temannya juga ikut berteriak
sambil melontarkan gombalan-gombalan yang sontak membuat Vivi menjadi malu.
“Tia, lo tau ga siapa nama cowo yang teriak
pake alas sepatu putih waktu kita lewat di warung tadi”. Vivi penasaran.
“Klo yang itu gue gak tau. Tapi klo diliat dari
mukanya sih ga asing ya, Kayanya gue sering liat muka tu cowo. Kenapa sih Vi?”.
Tia juga ikut penasaran.
“Gak papa sih, gue cuma nanya aja”. Vivi
mengerutkan keningnya.
“Masa sih, Dia lumayan ko Vi”. Tia merayu Vivi.
“Apa sih lo”. Vivi tersenyum kecil.
Setelah sampai di
warung makan kecil-kecilan Andi dan temannya sampai untuk sekedar makan siang
dengan Vivi, Tia, dan Zizah. Sambil menunggu hidangan, mereka melontarkan
candaan . Entah kenapa Vivi sangat penasaran dengan cowo beralas sepatu putih
itu hingga dia berani menanyakannya ke Andi . “ ka boleh nanya gak”.Vivi
memulai pembicaraan.
“kenapa Vi?”.
“Tau gak nama kaka
kelas yang make alas sepatu putih,orangnya lumayan cakep sih dan putih yang
sering nongkrong di warung deket sekolah”. Vivi membayangkan cowo itu.
“Siapa ya? Rezky atau
bukan”. Jawab Andi sambil mengingat cowo yang dimaksud Vivi.
“ Yah mana Vivi tau
ka,makanya Vivi nanya” Vivi menaikkan bahunya.
“Kayanya yang kamu
maksud itu Rezky deh,Kenapa Vi nanyain dia”.Andi sedikit curiga.
“gak ko, cuma nanya
aja, orangnya gampang akrab “. Vivi menyeringai, lalu vivi segera mengalihkan
pembicaraan. “ Wah gelangnya bagus banget, boleh gak ka minta gelangnya”. Ucap
Vivi dengan wajah memelas.
Andi berpikir sejenak dan merasa berat hati “ ya udah deh buat kamu
aja”. Di lepasnya gelang bewarna hitam kuning itu kemudian ia pasangkan ke
tangan Vivi.
Sore dihari yang sama
Vivi, Zizah, Anton dan Andi pergi ke
sebuah kantor yang baru selesai dibangun untuk Pemotretan, Bisa dibilang Vivi
adalah seorang model karena foto memang menjadi sebuah hobby baginya, dia cukup
sering dijadikan model oleh beberapa photographer.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar